- LIPI, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, juga mengadakan lomba khusus bagi guru yaitu Lomba Kreatifitas Ilmiah Guru (LKIG) yang diadakan tiap tahun. Tahun 2006 aku kirimkan hasil penelitian yang berjudul, Melejitkan Kecerdasan Majemuk pada Pembelajaran Sumber Daya Alam dan Cara Melestarikannya sebagai Upaya Membangun Kepedulian Lingkungan Siswa Sekolah Dasar.
- Judul karya tulis di atas mengantarkan aku kembali ke Ibu kota, Jakarta. Pada tanggal 9 September 2006 aku, Ustadzah Dewi, guru Matematika SD al Hikmah, kepala sekolah SD al Hikmah, kepalah sekolah SMP al Hikmah, dan 3 orang siswa SMP al hikmah, serta seorang guru pendamping. Terbang ke Jakarta untuk menjemput impian menjadi pemenang dalam lomba yang di adakan oleh LIPI.
- Kebesaran Allah ditunjukkan dihadapanku, 2 guru SD al Hikmah Surabaya, aku dan ustadz Dewi menjadi finalis di LKIG 2006. Satu kelompok siswa SMP al Hikmah (tiga siswa) menjadi finalis di lomba . Sama-sama menjadi finalis Kelompok Ilmiah Remaja. Sebuah lomba untuk siswa SLTA se-Indonesia.
- Dari lomba ini, kesabaran dan semangatku diuji oleh Allah berupa nikmat dan ujian kalah dalam final. Temanku ustadzah Dewi Mustika, menyabet juara dua. Dan kelompok siswa SMP al Hikmah yang pimpin Dibyo menjadi juara pertama tingkat Nasional. Sedangkan aku cukup menjadi finalis. Sebuah ujian yang amat manis-manis bercampur sedikit pahit. Ujian manis karena tidak semua orang dapat menjadi finalis, bisa merasakan nikmatnya berkumpul dengan orang-orang pilihan. Mendapat biaya ke Jakarta naik pesawat pulang pergi gratis, akomodasi dan dapat tidur di hotel berbintang, serta mendapat beberapa lembar uang ratusan ribu rupiah. Tapi sedikit bercampur pahit karena Allah belum menakdirkan aku mendapat juara dan uang untuk ongkos naik haji.
- Ketika Aku merenung tentang kejadian diatas, akhirnya teringat ayat Allah, laaiin syakartum walaah zidhan nakum walaaiin kafartum inaa adhabii lashadib, artinya, barang siapa menyukuri nikmat Allah maka akan ditambah nikmatnya dan barang siapa yang mengingkari nikmat Allah maka adhab Allah amat pedih.
- Untuk itu sebagaimana biasa aku infaqkan sebagaian dari nikmat Allah yang berupa lembaran-lembaran ratusan ribu kepada yang berhak. Mulai dari Ibu, mertua, adik-adik, anak-anak, dan tak lupa buat istriku mendapat haknya. Dari nikmat yang baru aku peroleh untuk menanti balasan yang lebih besar dari Allah. Ya Rabbi dengarkan keinginan hambahmu ini untuk dapat mengunjungi kota Mekkah dan Madinah.
- Periode beriiktunya, tahun 2005 diadakan lagi lomba memperebutkan Piagarm MAB 2005. Aku mengadakan riset di Taman Nasional Baluran di Situbondo Jatim. Sebuah Taman Nasional yang melindungi Banteng sebabai Maskot. Setelah melakukan riset selama beberapa bulan. Aku putuskan untuk menulis judul, Membangun Kepedulian Lingkungan Siswa Elementary School melalui Children’s Garden dan Pendidikan Teater sebagai Upaya Preventif melestarikan Taman Nasional Baluran Jawa Timur.
- Panitia Nasional Indonesia untuk program MAB dan kantor UNESCO Jakarta menetapkan 9 finalis untuk ke Jakarta 25 – 28 Februari 2006, salah satu finalisnya adalah penulis dengan judul Karya tulisku di atas.
- Tempat yang dipilih adalah Kebun Raya Bogor, 9 finalis di tempatkan di Guede House. Sebuah bangunan tua yang di bangun oleh Rafles, Gubenur Jendral Inggris, penguasa Hindia Belanda (baca Indonesia) waktu itu. Kata petugas Kebun Raya, Rafleslah yang membangun Kebun Raya ini. Dan istri tercintanya meninggal di kota ini dan di makamkan di areal ini.
- Hari-hari di Kebun Raya kulewati dengan indah, karena dapat merasakan dinginnya kota hujan, dan dapat keliling Kebun Raya. Indahnya Istana Presiden dapat aku lihat dengan jelas, harumnya aneka kolesi anggrek langkah dapat rasakan.
- Adalah Sebuah pertemuan yang tak direncanakan, yaitu aku ketemu lagi dengan salah satu pemenang MAB 2003, dari WARSI, Ir. Zainuddin. Ada sebuah kenangan yang menarik untuk aku tuangkan ditulisan ini. Kisah sebuah jas yang penah jadi juara. Zainuddin waktu akan di anugrahi piagam MAB 2003, dia tidak memakai baju yang resmi. Dia berpakaian santai, pakai kaos. Akhirnya dia meminjam jas batik kebesaranku. Jas itu pas dengan ukuranku dengan tinggi sekitar 160 senti meter, sedangkan dia tingginya kira-kira 170 senti meter. Ketika giliran dipanggil oleh panitia dia memakai kaos yang di tutupi dengan jas batik yang terlalu kecil untuk ukurannya.
- Kami berdua terlena dengan lamunan masing-masing, dia keasyikan dengan acara diatas dan wawancara dengan beberapa kuli tinta, yang tertarik dengan hasil penelitiannya. Aku melamun dengan kekalahanku. Akhirnya jas kebesarku ikut ke Sumatra, bersama Zainuddin. Beberapa minggu kemudian baru dikirim ke rumahku di Bangil.
- Masih segar diingataku, teman-teman finalis MAB 2003 memberi julukkan aku ustad. Karena ketika semua pada tegang untuk menungguh hasil pengumuman pemenang. Aku memberi nasehat dari kandungan salah satu ayat yang berbunyi, waidaah azzamtah watawal alallah, yang artinya setelah kita berusaha maksimal, meneliti, menulis, dan presentasi sebaik mungkin, untuk urusan hasil serakan pada Allah. Kalimat ini, mampu meredakan ketegangan semua teman-teman.
- Untuk pemenang Piagam MAB 2005 yang sebelumnya direncanakan 5 peserta. Finalis yang beruntung menyabet 1000 dollar Amerika kali hanya dua orang.Sedangkan aku dan Zainuddin belum beruntung cukup menjadi finalis.
- Ketika kusadari betapa, banyaknya nikmat Allah yang aku peroleh dari ridho-Nya di dunia ini dan sedikit usahaku, khususnya di bidang menulis. Semangatku mulai aku fokuskan pada lomba karya tulis ilmiah khusus guru, sesuai dengan profesiku.
FINALIS PIAGAM MAB, MAN OF THE BIOSPHERE 2003
- Sebuah lompatan cita-cita yang amat jauh aku gantungkan, ingin jadi juara dibidang karya tulis ilmiah, dan dapat uang untuk naik haji. Dari belajar otodidak dunia tulis-menulis dan bekal karya tulis skripsi sepuluh tahun silam, 1993. Aku berusaha kuat dan tentunya dengan mengharap ridho Allah. Akhirnya Allah mendengar doa dan tangisan hambahnya yang bersujud hampir tiap malam.
- Tahun dua ribu tiga, doa dan usahaku mulai ada titik terang. Aku mendapat sebuah kejutan dari sebuah karya ilmiah yang berjudul, Upaya Elementary School Peduli Lingkungan melalui Pendidikan Teater. Karya ini, aku tuangkan untuk memperebutkan Piagarm MAB, Man of the Biospere. Sebuah Lomba untuk peneliti muda dan praktisi lingkungan di Indonesia, yang diadakan oleh LIPI bekerjasama dengan UNESCO.
- Informasi lomba ini aku peroleh dari Koran Republika, aku memberanikan diri untuk menulis dalam dua bahasa sekaligus, bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Karena jenis lomba yang aku ikuti ada link dengan UNESCO. Jadi karya tulis para pemenang akan diterbitkan di 5 jurnal ilmiah luar negeri.
- Lima pemenang dari sembilan finalis peneliti muda pengelola lingkungan ini, masing-masing mendapat 1000 dollar Amerika, setara dengan sepuluh juta rupiah. Sebuah angka yang lumanyan untuk niat suciku. Alhamdulillah rejeki di depan mata belum dapat aku peroleh, cukup menjadi finalis. Sebuah pengalaman berharga yang sulit untuk dilupakan. Aku dapat keliling Jakarta, fasilitas hotel berbintang dan naik pesawat pulang pergi Jakarta – Surabaya gratis, serta bekal tambahan ilmu.
- Kelima pemenang dalam lomba ini antara lain, pertama, Iin Purwanti, Ph.D (Dosen Universitas Bengkulu), Pendayagunaan Koloni Vegetas i Invasi untuk Percepatan Restukturisasi Lahan Kritis di Taman Nasional Bukit Seblat. Kedua, Nur Arafah, SP. M.Si, dengan judul Pengetahuan Lokal Suku Moronene dalam Sistem Pertanaman di Sulawesi Tenggara. Ketiga, M.Syukri Nur, SP.M.Si, dengan judul Neraca Energi dan Air Kawasan Disekitar Taman Nasional Lore Lindu Propinsi Sulawesi Tengah. Keempat, Ir. Zainuddin dengan judul, Kawasan Bukit Duabelas Antara Ancaman dan Upaya Penyelamatan. Kelima, Mahendra Taher dengan judul, Membangun Kesepahaman Bersama sebuah Upaya Mendorong Pengelolaan Sumber Daya Alam Berkelanjutan. (Kompas, 6 November 2003).
- Sembilan finalis memaparkan hasil karyanya di depan 9 juri yang 8 orang bergelar professor, dan satu artis pemerhati lingkungan, Uly Hary Rusady. Di antara 8 profesor itu yang melekat diingatanku adalah Prof. DR. Kuswata Kartawinata, juri utusan dari UNESCO Jakarta. DR.Endang Sukara, APU, sebagai ketua dewan juri dari LIPI.
- Beberapa kelemahan dari karya tulis di atas, aku diskusikan pada salah satu dari sembilan penguji yang tertarik dengan hasil risetku di SD Al Hikmah. Penasehat senior untuk lingkungan hidup Kantor UNESCO Jakarta, Profesor Kuswata Kartawinata, menyarankan agar karya tulisku lebih berbobot, di kaitkan dengan wilayah sebuah Taman Nasional di Jatim.(Kompas, 6 November 2003). Nasehat berharga ini aku simpan untuk bekal karya tulisku berikutnya.
- Selasa, sembilan belas Pebruari dua ribu delapan, sebuah kenangan manis….. aku dan istriku dapat setor BPIH, Biaya Perjalanan Ibadah Haji, melalui dana talangan.BMI, Bank Muamalat Indonesia, Nomer porsiku adalah 1300211726, dan istiku, Siti Asyuroiyah, nomer porsinya ; 130021719. Insyaallah kedua nomer porsi tersebut untuk daftar tunggu haji tahun 2010, kata petugas KBIH Bumi Shalawat, Hj. Khusnul, yang mengantarkan kami ke BMI.
- Adalah sebuah penantian panjang sepasang hambah Allah ini, untuk dapat menunaikan rukun islam kelima. Sejak tahun 2002 istriku menulis kalimat pendek, “ 2002 haji amin”, di kaca almari kamar tidur kami. Kalimat sakti itu bertengger di bawah foto kami berdua yang menghiasi almari. Setiap akan berangkat kerja atau akan tidur, kami pasti membaca dan membulatkan tekat untuk dapat pergi ke tanah suci Mekkah . Meskipun secara materi belum mencukupi, tabungan hajipun belum terpikirkan. Ketika tahun 2002 bergeser 2003 maka tulisan itupun akan kami ganti, 2003 haji amin, dan seterusnya.
- Sejak itu, aku mulai rajin berusaha mencari penghasilan tambahan sesuai bidangku. Aku adalah seorang pendidik di YLPIH, Yayasan Lembaga Pendidikan Al Hikmah, Surabaya sejak tahun 1993. Penghasilan sebagai seorang guru SD.swasta boleh di bilang cukup, untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
- Sedang istriku menjadi guru TK di lingkungan yang sama. Mulai tahun 1997 karena ada peraturan dari pihak yayasan kami harus merelakan salah satu untuk tidak satu instansi. Istriku memilih utnuk pindah ke TK Al Falah Surabaya. Aku bertekat bagaimana caranya agar dapat mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya tapi tetap sesuai dengan jalur pendidikan.
- Pilihanku pada jalur tulis-menulis. Aku mulai gila membaca dan menulis. Aku mencoba menulis di majalah, Koran, dan mengikuti lomba karya tulis ilmiah untuk guru. Hasil jeri payaku belajar menulis mulai mendapat respon. Aku menjadi wartawan di majalah dwi bulanan Al HIkmah sejak tahun 2003- 2005.
- Tulisanku di muat di majalah Mimbar Depag Jatim, dan Majalah Al Mu’tashim (sebuah majalah milik yayasan Al Haromain). Aku semakin raiin menulis dan menulis. Kalau tulisanku yang tidak di muat jumlahnya cukup banyak, tapi tetap semangat untuk tujuan suciku mencari penghasilan tambahan.
- Pada jalur karya ilmiah aku mulai membaca berbagai karya ilmiah baik di majalah sampai krisip mahasiswa S-2 yang tersedia di perpustakaan SD Al Hikmah ludes aku baca. Mulai tahun 2002 aku mencoba mengikuti LKG, lomba kreatifitas guru, tingkat nasional. Lomba ini diadakan oleh Diknas yang di ikuti oleh guru se Indonesia, mulai dari jenjang TK, sampai SMU. Lomba ini diadakan setiap tahun. Dari sembilan guru SD Al Hikmah yang mengikuti lomba ini ada satu guru yang menjadi finalis tingkat nasional. Semangatku semakin menggelora untuk dapat menjadi juara dan hadiahnya aku tabungkan untuk haji.
-
Adalah sebuah penantian panjang sepasang hambah Allah ini, untuk dapat menunaikan rukun islam kelima. Sejak tahun 2002 istriku menulis kalimat pendek, “ 2002 haji amin”, di kaca almari kamar tidur kami. Kalimat sakti itu bertengger di bawah foto kami berdua yang menghiasi almari. Setiap akan berangkat kerja atau akan tidur, kami pasti membaca dan membulatkan tekat untuk dapat pergi ke tanah suci Mekkah . Meskipun secara materi belum mencukupi, tabungan hajipun belum terpikirkan. Ketika tahun 2002 bergeser 2003 maka tulisan itupun akan kami ganti, 2003 haji amin, dan seterusnya.
Hadiah, nikmat dan karunia dari Allah terus mengalir sejak aku bulatkan tekatku untuk dapat menunaikan rukun Islam yang kelima. Kalimat sakti bertengger di kaca almari itu mulai aku rasakan dampak positifnya. Pada tanggal 8 Februari 2003, Allah menambah nikmat dengan lahirnya anak keempat.
- Anak yang lahir dini hari di Rumah sakit Khadijah Sepanjang Sidoarjo ini, Aku beri nama Qonita Nur Azizah. Dia lahir tampak sempat aku temani. Ketika berangkat ke Rumah sakit sekitar jam Sembilan malam. Aku berusaha menemani istri tercintaku sampai pukul satu dini hari. Menurut perkiraan dokter mungkin lahir ba’da subuh. Aku diminta oleh istriku pulang untuk melihat ketiga anakku yang menanti di rumah.
- Aku tinggal di Sambi Kerep Jemundo RT 23 RW 5 Taman Sidoarjo. Rumahku berjarak kurang lebih tiga kilometer dari rumah sakit. Setelah sholat subuh aku bergegas ke rumah sakit. Alangkah bahagia bercampur terharu karena anak keempatku telah lahir pada pukul setengah tiga dengan selamat. Proses persalinan berjalan normal dengan ditemani bidan rumah sakit tersebut.
- Sebuah nama yang kurang lebih artinya kekuatan seorang wanita yang taat karena mandapat cahaya dari Allah. Dari hadiah anak keempat ini, semangat kami untuk dapat menunaikan ibadah haji semakin membarah.
Sejak itu, aku mulai rajin berusaha mencari penghasilan tambahan sesuai bidangku. Aku adalah seorang pendidik di YLPIH, Yayasan Lembaga Pendidikan Al Hikmah, Surabaya sejak tahun 1993. Penghasilan sebagai seorang guru SD.swasta boleh di bilang cukup, untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Sedang istriku menjadi guru TK di lingkungan yang sama. Mulai tahun 1997 karena ada peraturan dari pihak yayasan kami harus merelakan salah satu untuk tidak satu instansi. Istriku memilih utnuk pindah ke TK Al Falah Surabaya. Aku bertekat bagaimana caranya agar dapat mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya tapi tetap sesuai dengan jalur pendidikan.
Pilihanku pada jalur tulis-menulis. Aku mulai gila membaca dan menulis. Aku mencoba menulis di majalah, Koran, dan mengikuti lomba karya tulis ilmiah untuk guru. Hasil jeri payaku belajar menulis mulai mendapat respon. Aku menjadi wartawan di majalah dwi bulanan Al HIkmah sejak tahun 2003- 2005. Tulisanku di muat di majalah Mimbar Depag Jatim, dan Majalah Al Mu’tashim (sebuah majalah milik yayasan Al Haromain). Aku semakin raiin menulis dan menulis. Kalau tulisanku yang tidak di muat jumlahnya cukup banyak, tapi tetap semangat untuk tujuan suciku mencari penghasilan tambahan.
Pada jalur karya ilmiah aku mulai membaca berbagai karya ilmiah baik di majalah sampai krisip mahasiswa S-2 yang tersedia di perpustakaan SD Al Hikmah ludes aku baca. Mulai tahun 2002 aku mencoba mengikuti LKG, lomba kreatifitas guru, tingkat nasional. Lomba ini diadakan oleh Diknas yang di ikuti oleh guru se Indonesia, mulai dari jenjang TK, sampai SMU, diadakan setiap tahun. Dari sembilan guru SD Al Hikmah yang mengikuti lomba ini ada satu guru yang menjadi finalis tingkat nasional. Semangatku semakin menggelora untuk dapat menjadi juara dan hadiahnya aku tabungkan untuk haji.
Tahun dua ribu tiga, doa dan usahaku mulai ada titik terang. Aku mendapat sebuah kejutan dari sebuah karya ilmiah yang berjudul, Upaya Elementary School Peduli Lingkungan melalui Pendidikan Teater. Karya ini, aku tuangkan untuk memperebutkan Piagarm MAB, Man of the Biospere. Sebuah Lomba untuk peneliti muda dan praktisi lingkungan di Indonesia, yang diadakan oleh LIPI bekerjasama dengan UNESCO. Lima pemenang dari sembilan finalis peneliti muda pengelola lingkungan ini, masing-masing mendapat 1000 dollar Amerika, setara dengan sepuluh juta rupiah. Sebuah angka yang lumanyan untuk niat suciku. Alhamdulillah rejeki di depan mata belum dapat aku peroleh, cukup menjadi finalis. Sebuah pengalaman berharga yang sulit untuk dilupakan. Aku dapat keliling Jakarta, fasilitas hotel berbintang dan naik pesawat pulang pergi Jakarta – Surabaya gratis, serta bekal tambahan ilmu.
Lima pemenang dalam lomba ini antara lain, pertama, Nur Arafah, SP. M.Si, dengan judul Pengetahuan Lokal Suku Moronene dalam Sistem Pertanaman di Sulawesi Tenggara. Kedua, M.Syukri Nur, SP.M.Si, dengan judul Neraca Energi dan Air Kawasan Disekitar Taman Nasional Lore Lindu Propinsi Sulawesi Tengah. Ketiga, Ir. Zainuddin dengan judul, Kawasan Bukit Duabelas Antara Ancaman dan Upaya Penyelamatan. Keempat, Mahendra Taher dengan judul, Membangun Kesepahaman Bersama sebuah Upaya Mendorong Pengelolaan Sumber Daya Alam Berkelanjutan. Kelima. Iin Purwanti, Ph.D (Kompas, 6 November 2003).
Hadiah sebagai finalis aku bagikan kepada beberapa orang yang berhak, terutama mertuaku, ibu-bapakku dan beberapa saudara yang membutuhkan. Dengan niat dapat ganti yang lebih besar agar dapat memenuhi biaya naik haji.
Beberapa kelemahan dari karya tulis di atas, aku tanyakan pada salah satu dari sembilan penguji yang tertarik dengan hasil risetku di SD Al Hikmah. Penasehat senior untuk lingkungan hidup Kantor UNESCO Jakarta, Profesor Kuswata Kartawinata, menyarankan agar karya tulisku lebih berbobot, di kaitkan dengan wilayah sebuah Taman Nasional di Jatim.(Kompas, 6 November 2003). Nasehat berharga ini aku simpan untuk bekal karya tulisku berikutnya.
Periode beriiktunya, tahun 2005 diadakan lagi lomba memperebutkan Piagarm MAB 2005. Aku mengadakan riset di Taman Nasional Baluran di Situbondo Jatim. Sebuah Taman Nasional yang melindungi Banteng sebabai Maskot. Setelah melakukan riset selama beberapa hari. Aku putuskan untuk menulis judul, Upaya Preventif melestarikan Taman Nasional Baluran melalui Pendidikan Teater.
Dari karya tulis ini aku dapat terbang ke Jakarta, menjadi finalis di lomba di atas. Dari sembilan finalis melakukan presentasi dan mempertahankan hasil risetnya di salah satu gedung Kebun Raya Bogor. Panitia menetapkan hanya dua pemenang dari rencana semua lima finalis. Alhamdulillah aku meskipun tidak menjadi pemenang, aku bisa melihat dan berkeliling Kebun Raya Bogor dan melihat Indahnya Istana Presiden di lokasi tersebut.
Selasa, sembilan belas Pebruari dua ribu delapan, sebuah kenangan manis….. aku dan istriku dapat setor BPIH, Biaya Perjalanan Ibadah Haji, melalui dana talangan.BMI, Bank Muamalat Indonesia, Nomer porsiku adalah 1300211726, dan istiku, Siti Asyuroiyah, nomer porsinya ; 130021719. Insyaallah kedua nomer porsi tersebut untuk daftar tunggu haji tahun 2010, kata petugas KBIH Bumi Shalawat, Hj. Khusnul, yang mengantarkan kami ke BMI.
Hadiah sebagai finalis aku bagikan kepada beberapa orang yang berhak, terutama mertuaku, ibu-bapakku dan beberapa saudara yang membutuhkan. Dengan niat dapat ganti yang lebih besar agar dapat memenuhi biaya naik haji.Beberapa kelemahan dari karya tulis di atas, aku tanyakan pada salah satu dari sembilan penguji yang tertarik dengan hasil risetku di SD Al Hikmah. Penasehat senior untuk lingkungan hidup Kantor UNESCO Jakarta, Profesor Kuswata Kartawinata, menyarankan agar karya tulisku lebih berbobot, di kaitkan dengan wilayah sebuah Taman Nasional di Jatim.(Kompas, 6 November 2003). Nasehat berharga ini aku simpan untuk bekal karya tulisku berikutnya.
Periode beriiktunya, tahun 2005 diadakan lagi lomba memperebutkan Piagarm MAB 2005. Aku mengadakan riset di Taman Nasional Baluran di Situbondo Jatim. Sebuah Taman Nasional yang melindungi Banteng sebabai Maskot. Setelah melakukan riset selama beberapa hari. Aku putuskan untuk menulis judul, Upaya Preventif melestarikan Taman Nasional Baluran melalui Pendidikan Teater.
Dari karya tulis ini aku dapat terbang ke Jakarta, menjadi finalis di lomba di atas. Dari sembilan finalis melakukan presentasi dan mempertahankan hasil risetnya di salah satu gedung Kebun Raya Bogor. Panitia menetapkan hanya dua pemenang dari rencana semua lima finalis. Alhamdulillah aku meskipun tidak menjadi pemenang, aku bisa melihat dan berkeliling Kebun Raya Bogor dan melihat Indahnya Istana Presiden di lokasi tersebut.
Niat yang kuat dan penantian panjang itu baru tereralisir pada hari Sabtu, 16 Pebruari 2008. Istriku dapat tawaran dari KBIH (kelompok Bimbingan Ibadah Haji) Bumi Salawat untuk megikuti program haji talangan. Perawaran itu bermula dari ibu mertuaku, Ibtidaiyah, medaftarksan diri sebagai calon haji. Setelah menyelesaikan pembayaran BPIH , Biaya Perjalanan Ibadah Haji, dua puluh juta di BRI. Janda sepuluh anak ini, menuju ke Kantor Depag Sidoarjo. Ada sebuah kekecewaan yang mendalam di wajah belaiu setelah pihak Depag Sidoarjo Jatim, menolak pendaftaran perorangan. Alasan penolakan karena ibu berangkat sendiri dan harus ada pihak KBIH yang menjadi payung (baca :pelindung). Akhirnya beliau berkenalan dengan penggurus KBIH Bumi Shalawat yang menawarkan program haji talangan di atas. Uang dua puluh juta rupiah di BRI akhirnya diambil dan di pecah untuk membiayai BPIH 3 orang, Ibu Mertua, aku dan Istriku.
Senin, 18 Pebruari 2008, kami bertiga ditemani oleh penggurus KBIH Ibu Hj. Khusnul, menuju ke Bank Muamalat cabang Sidoarjo di Jalan Jenggolo nomer 90 A Sidoarjo . Kami dipilih untuk menemani mertua karena dianggap yang paling siap untuk melaksanakan ibadah haji.
Gayungpun bersambut, sebuah keinginan yang kuat beliau untuk pergi haji. Karena memdapat hadiah dari kakak iparku, Abdul Majid. Hadiah ONH ini bermula dari nadar kakak iparku, bila mendapat ganti rugi dari rumahnya yang tertimbun lumpur lampindo. Ayah tiga anak ini berjanji membiayai ibu mertua naik haji.
- Karena ditolak oleh Depag Sidoarjo beliau berkenalan dengan penggurus KBIH Bumi Shalawat. Dari hasil silaturrohim dengan pengurus KBIH yang beralamat di Gedangan Sidoarjo ini, ada tawarkan program haji talangan di atas. Uang dua puluh juta rupiah di BRI akhirnya diambil dan di pecah untuk membiayai BPIH 3 orang, Ibu Mertua, aku dan Istriku.
- Hikmah berbakti pada mertua dan perjuangan yang panjang terlihat. Kami dipilih untuk menemani mertua ke tanah suci. Semua saudara iparku, menilai yang paling siap untuk melaksanakan ibadah haji dan bisa menemani mertua adalah kami berdua.
-
Pada hari Senin, 18 Pebruari 2008, kami bertiga ditemani oleh penggurus KBIH Ibu Hj. Khusnul, menuju ke Bank Muamalat cabang Sidoarjo di Jalan Jenggolo nomer 90 A Sidoarjo. Alhamdulillah, setelah menyelesaikan berbagai prasyarat yang ada, akhirnya kami bertiga dapat nomer porsi untuk haji tahun 2010. Dengan catatan dalam waktu sepuluh bulan kami harus melunasi sisa dari setoran plus biaya tambahan yang ditetapkan yaitu satu juta lima ratus ribu kali tiga. Jumlah total yang harus kami lunasi sekitar enam puluh lima juta.
- Ya Allah berilah rizqi yang berlimpah untuk dapat menutupi ONHku….. amin.
- Rizqi mengejarmu melebihi kamu mengejarnya……..
- Jadi perjuangan masih panjang dan tantanga ada di depanku …… baca episode Pra Haji jilid dua, insyallah.
-
- Ya Allah berilah rizqi yang berlimpah untuk dapat menutupi ONHku….. amin.
- Rizqi mengejarmu melebihi kamu mengejarnya……..
- Jadi perjuangan masih panjang dan tantanga ada di depanku …… baca episode Pra Haji jilid dua, insyallah.
Raihlah cita-citamu setinggi bintang di langit (Soekarno, Proklamator RI).
Untuk mewujudkan impianku (cita-citaku) agar dapat duduk di salah satu perguruan tinggi negeri banyak hal sudah saya lakukan. Impian besar bagiku bisa mengenyam pendidikan di kampus. Saya katakan besar atau luar biasa karena dari sisi finasial, kehidupan keluargaku biasa-biasa saja. Untuk memenuhi kebutuha, ayah dan ibu rela membanting tulang. Siang dan malam mencari rejeki. Bapakku adalah pengrajin emas (logam muliah) yang super jujur. Beliau hanya menerima ongkos sehari-hari 7 bersaudara adalah sebuah pimpin
Beberapa minggunya lalu, tepatnya tanggal 7 dan 8 Januari 2012, saya menyusuri kota Bangil, kota santri. Berawal dari depan komplek SMPN 1 Bangil, berputar mengelilingi alun-alun Bangil, sampai hampir semua sudut kota sate ini saya jelajahi. Kenangan manis hidup di kota kecil ini, seakan-akan mulai muncul kembali di pelupuk mata. Sebuah kisah perjalan anak manusia yang ideal, bermimpi mengejar cita-cita. Simpan urasan cinta pertama, first love, dan kegiatan hura-hura. Al hamdulillah sekarang mulai memetik hasilnya. Perjalanan panjang belum selesai. Saya akan terus belajar dan belajar....
Setiap insan pasti perna mengalami namanya cinta pertama, first love. Kisah perjalanan otobiografi ini penulis awali saat menginjak masa pubertas, masa aqil balik. Memasuki usia pubertas, merupakan masa yang paling indah untuk dikenang. Saat duduk di kelas 3 SMP N 1 Bangil, awal tahun 1983. Mulai tumbuh benih-benih cinta pada lawan jenis.Penampilan, pakaian, sepatu, dan semua yang kita pakai mulai kita perhatikan serapih mungkin. Untuk menarik lawan jenis. Apalagi senyuman, harus dibuat sebaik mungkin.
Berawal dari aktif dalam kegiatan pramuka. Sejak duduk di kelas 1 SMPN 1 Bangil. Saya aktif mengikuti kegiartan kepanduan ini. Saya senang mengikuti pramuka karena ada kegiatan berpetualang, menjelajah alam, dan berwisata (kamping). Saya mengenal adik kelas 1, sebut saja puja (bukan nama sebenarnya), yang juga aktif di pramuka. Seorang yang rama, murah senyum, dan anggun. Setiap hari minggu , pelaksaan kegiatan pramuka, motivasi mengikuti kegiatan ekstrakuikuler ini, mulai tergeser dari ingin mengisi waktu dengan kegiatan yang menantang/ menjelajah alam menjadi ingin ketemu dengan dia.
Tidak ada satu katapun yang terucap padanya, hanya senyum yang terbaik yang kumiliki yang kutunjukkan padanya. Saat bertemu di sekolah atau di kegiatan pramuka hanya senyumku yang mewakili perasaanku. Perasaan mencintai, cinta pertama, yang terpendam dalam hati. Cinta yang tulus ini kupendam dalam hati dan kututupi agar tidak lepas kendali. Takut bertepuk sebelah tangan. Takut ditolak. Akhirnya saya simpan rapat rapat sampai aku sendiri melupakannya. Bahkan sampai tulisan ini dibuat saya baru menyadari perna mengidolakan seseorang (30 tahun yang lalu). Mungkin pujapun sampai saat ini belum mengetahui. Bagaimana dia tahu, saya tidak sempat mengutarakan. Baik melalui surat, titip teman, atau email (maaf dulu tidak ada email), atau berkunjung kerumahnya. Kasihan.... membohongi diri sendiri. Tapi tidak apa-apa, saya harus melewati masa itu dengan indah walau hanya dalam hayalan (firsh love imajiner). Cinta monyet kata kawan-kawanku dulu.
Pernah pada malam minggu aku berkeinginan mengunjungi rumahnya. Tapi setiba di dekat alun-alun Bangil saya mulai bimbang. Langkah kakiku terasa berat, akhirnya niat itu saya urungkan dan ganti dengan bermain bola di alun-alun Bangil.
Ada satu hal yang mengganjal waktu itu. Yaitu kepercayaan diri (PD), seseorang mempunyai keberanian atau kepercayaan diri bila ada yang bisa dibanggakan tentunya. Apa yang saya banggakan/andalkan untuk dapat mengaet seorang wanita. Tidak ada yang aku banggakan pada diri ini. Nilai pelajaranku pas-pasan, dari 130 siswa di SMP favorit ini, saya ada diurutan tengah, sekitar 60an. Saya tidak memiliki pertasi yang dapat di andalkan. Baik akademis maupun non akademis. Saat mau berkunjung atau mengenal lebih dekat dengan seseorang, saya tidak memiliki alat transportasi, sepeda tak punya apalagi sepeda motor.
Akhirnya kuputuskan untuk fokus pada pelajaran. Semua keinginan untuk memiliki teman dekat wanita, saya ganti berteman dengan buku. Bila dibandingkan dengan siswa sekarang tentunya jauh berbeda, mereka berani mengirim surat, email, atau melalui dunia maya, FB, bahkan lebih dari itu.
Saya mulia mendaftakan diri jadi anggota perpustakaan di Kecamatan Bangil. Waktu itu perpustakaan ada di dekat alun-alun Bangil. Sekarang perputakaan yang pembuka pintu duniaku, pindah di dekat kantor kecamatan yang baru, dijalan Pandaan, 2 kilometer dari alun-alun Bangil ke arah kota Pandaan. Setiap waktu kosong saya mengunjungi perpustakaan ini. Setelah pulang sekolah, dengan berjalan kali kurang lebih 1 kilometer saya kunjungi tempat favoritku ini (perputakaan) Saya Mulai kenal buku-buku cerita lima sekawan, novel remaja (fiksi), sampai buku serius (non fiksi). Masih ingat saat itu aku sudah membaca buku Perbandingan Al Qur'an, Bibel dan Sains Modern karya Mouris B.
Seorang mualaf dari Prancis, Mouris B. menemukan keindahan dan kecocokan antara sains yang dia pelajari dengan al Qur'an. Dan bila dibandingkan dengan Bibel sains banyak ketidak tidak sesuai . Sejak itu kecintaan pada Islam tumbuh buka karena saya lahir dari keluarga muslim. Tapi karena saya membaca karya-karya ilmiah yang cocok dengan al Qur'an. Sebuah perjalanan anak manusia, yang melarikan diri dari perasaan minder ingin berkenalan dengan lawan jenis dan akhirnya kenal dengan al Qur'an ditinjau dari sains.
Tapi saya merasa bersyukur karena masa remajaku terhindar dari berbuat maksiat.Atau yang menyimpang dari agama (semoga). Allah telah membimbingku kejalan yang benar melalui buku perpustakaan.