Kamis, 26 Januari 2012

OTOBIOGRAFI01=FIRST LOVE

First Love

 Beberapa minggunya lalu,  tepatnya tanggal 7 dan 8 Januari 2012, saya menyusuri kota Bangil, kota santri. Berawal dari  depan komplek SMPN 1 Bangil, berputar mengelilingi alun-alun Bangil, sampai hampir semua sudut kota sate ini saya jelajahi. Kenangan manis hidup di kota kecil ini, seakan-akan mulai muncul kembali di pelupuk mata.  Sebuah kisah perjalan anak manusia yang ideal, bermimpi mengejar cita-cita. Simpan urasan cinta pertama, first love, dan kegiatan hura-hura. Al hamdulillah sekarang mulai memetik hasilnya. Perjalanan panjang belum selesai.  Saya akan terus belajar dan belajar....
Setiap insan pasti perna mengalami namanya cinta pertama, first love. Kisah perjalanan otobiografi ini penulis awali saat menginjak masa pubertas, masa aqil balik. Memasuki usia pubertas, merupakan masa yang paling indah untuk dikenang. Saat duduk di kelas 3 SMP N 1 Bangil, awal tahun 1983. Mulai  tumbuh benih-benih cinta pada lawan jenis.Penampilan, pakaian, sepatu, dan semua yang kita pakai mulai kita perhatikan serapih mungkin. Untuk menarik lawan jenis. Apalagi senyuman, harus dibuat sebaik mungkin.
Berawal dari aktif dalam kegiatan pramuka. Sejak duduk di kelas 1 SMPN 1 Bangil. Saya aktif mengikuti kegiartan kepanduan ini. Saya senang mengikuti  pramuka karena ada kegiatan  berpetualang, menjelajah alam, dan berwisata (kamping). Saya mengenal adik kelas 1, sebut saja puja (bukan nama sebenarnya), yang juga aktif di pramuka. Seorang yang rama, murah senyum, dan anggun. Setiap hari minggu , pelaksaan kegiatan pramuka, motivasi mengikuti kegiatan ekstrakuikuler ini,  mulai tergeser dari ingin mengisi waktu dengan kegiatan yang menantang/ menjelajah alam menjadi ingin ketemu dengan dia. 
Tidak ada satu katapun yang terucap padanya, hanya senyum yang terbaik yang kumiliki yang kutunjukkan padanya. Saat bertemu di sekolah atau di kegiatan pramuka hanya senyumku yang mewakili perasaanku. Perasaan mencintai, cinta pertama, yang terpendam dalam hati. Cinta yang tulus ini kupendam dalam hati dan kututupi agar tidak lepas kendali. Takut bertepuk sebelah tangan. Takut ditolak. Akhirnya saya simpan rapat rapat sampai aku sendiri melupakannya. Bahkan sampai tulisan ini dibuat saya baru menyadari perna mengidolakan seseorang (30 tahun yang lalu). Mungkin pujapun sampai saat ini belum mengetahui. Bagaimana dia tahu, saya tidak sempat mengutarakan. Baik melalui surat, titip teman, atau email (maaf dulu tidak ada email),  atau berkunjung kerumahnya. Kasihan.... membohongi diri sendiri. Tapi tidak apa-apa,  saya harus melewati masa itu dengan indah walau hanya dalam hayalan (firsh love imajiner). Cinta monyet kata kawan-kawanku dulu.
Pernah pada malam minggu aku berkeinginan mengunjungi  rumahnya. Tapi setiba di dekat alun-alun Bangil saya mulai bimbang. Langkah kakiku terasa berat, akhirnya niat itu saya urungkan dan ganti dengan bermain bola di alun-alun Bangil.
Ada satu hal yang mengganjal waktu itu. Yaitu kepercayaan diri (PD), seseorang mempunyai keberanian atau kepercayaan diri bila ada yang bisa dibanggakan tentunya. Apa yang saya banggakan/andalkan untuk dapat mengaet seorang wanita. Tidak ada yang aku banggakan pada diri ini. Nilai pelajaranku pas-pasan, dari 130 siswa di SMP favorit ini, saya ada diurutan tengah, sekitar 60an. Saya tidak memiliki pertasi yang dapat di andalkan. Baik akademis maupun non akademis. Saat mau berkunjung atau mengenal lebih dekat dengan  seseorang, saya tidak memiliki alat transportasi, sepeda tak punya apalagi sepeda motor.
Akhirnya kuputuskan untuk fokus pada pelajaran. Semua keinginan untuk memiliki teman dekat wanita, saya ganti berteman dengan buku. Bila dibandingkan dengan siswa sekarang tentunya jauh berbeda, mereka berani mengirim surat, email, atau melalui dunia maya, FB, bahkan lebih dari itu.
Saya mulia mendaftakan diri jadi anggota perpustakaan di Kecamatan Bangil. Waktu itu perpustakaan ada di dekat alun-alun Bangil. Sekarang perputakaan yang pembuka pintu duniaku, pindah di dekat kantor kecamatan yang baru, dijalan Pandaan, 2 kilometer dari alun-alun Bangil ke arah kota Pandaan. Setiap waktu kosong saya mengunjungi perpustakaan ini. Setelah pulang sekolah, dengan berjalan kali kurang lebih 1 kilometer saya kunjungi tempat favoritku ini (perputakaan) 
Saya Mulai kenal buku-buku cerita lima sekawan, novel remaja (fiksi), sampai buku serius (non fiksi). Masih ingat saat itu aku sudah membaca buku Perbandingan Al Qur'an, Bibel dan Sains Modern karya Mouris B. 
Seorang mualaf dari Prancis, Mouris B. menemukan keindahan dan kecocokan antara sains yang dia pelajari dengan al Qur'an. Dan bila dibandingkan dengan Bibel sains banyak ketidak tidak sesuai . Sejak itu kecintaan pada Islam tumbuh buka karena saya lahir dari keluarga muslim. Tapi karena saya membaca karya-karya ilmiah yang cocok dengan al Qur'an. Sebuah perjalanan anak manusia, yang melarikan diri dari perasaan minder ingin berkenalan dengan lawan jenis dan akhirnya kenal dengan al Qur'an ditinjau dari sains.
Tapi saya merasa bersyukur karena masa remajaku terhindar dari berbuat maksiat.Atau yang menyimpang dari agama (semoga). Allah telah membimbingku kejalan yang benar melalui buku perpustakaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar